Anak dan Hukum: Bukan Akhir Cerita tapi Awal Suara yang Ingin Didengar
Rp30.000
Penulis: Izzatun Nisa’ Aulia, Nandika Putri Zurya Razyd, Yusria Ningsih, S.Ag, M.Kes.
ISBN: 978-634-7447-68-5
Cetakan: Pertama, November 2025
Halaman & Ukuran: vi + 72 hlm, UNESCO (15,5 cm x 23 cm)
Sinopsis: Buku berjudul “Anak dan Hukum: Bukan Akhir Cerita tapi Awal Suara yang Ingin Didengar” ini disusun sebagai upaya untuk memberikan perspektif baru dalam memahami Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH). Buku ini tidak hanya ingin mengupas permasalahan anak yang tersandung hukum, tetapi lebih jauh lagi, menawarkan ruang pemulihan identitas melalui penguatan suara merekaterutama melalui public speaking.
Dalam buku ini, pembaca akan diajak untuk memahami ABH dari berbagai sudut pandang: hukum, psikologi, sosial, dan nilai-nilai Islam. Tidak hanya sekadar menyajikan data dan fakta, buku ini juga membawa refleksi langsung dari para pendamping ABH, terutama Pendamping yang terlibat dalam program pelatihan public speaking di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA).
Bagi banyak orang, cerita ABH sering kali diakhiri dengan stigma “anak bermasalah”, “penjahat kecil”, atau “korban kesalahan sendiri”. Padahal, sebenarnya inilah awal dari sebuah proses pemulihan dan transformasi diri. Mereka bukan hanya objek dari sistem peradilan, tetapi juga subjek yang memiliki suara, harapan, dan potensi untuk menjadi agen perubahan.
Melalui pendekatan public speaking , kami ingin menunjukkan bahwa kemampuan berbicara di depan umum bukan hanya soal teknik vokal atau gestur tubuh, tetapi lebih dari itu: sarana untuk membangun kembali rasa percaya diri, mengubah stigma menjadi kekuatan, dan memberi ruang bagi ABH untuk didengar bukan hanya oleh masyarakat, tetapi juga oleh diri mereka sendiri.
Refleksi yang ditulis oleh Pendamping dalam bab akhir turut melengkapi buku ini. Refleksi tersebut menggambarkan bagaimana proses pendampingan ABH tidak hanya memberikan manfaat bagi anak-anak tersebut, tetapi juga menjadi pembelajaran mendalam bagi para pendamping dalam memahami makna empati, kesabaran, dan tanggung jawab sosial dalam bingkai nilai-nilai Islam.




Ulasan
Belum ada ulasan.